Memahami dan Menafsirkan Ucapan Paulus Yang Sulit, 33:
Kristus yang Tidak Berguna
* Galatia 5:1-15 Kemerdekaan Kristen
5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.
5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.
5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.
5:7 Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?
5:8 Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu.
5:9 Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.
5:10 Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapa pun juga dia.
5:11 Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi.
5:12 Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya!
5:13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
5:14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"
5:15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.
Galatia 5:2 nampaknya mengungkapkan keterbatasan dalam pekerjaan Kristus. Apakah ayat ini tidak mengurangi nilai dan manfaat hidup dan kematian Kristus? Dapatkah penyerahan diri terhadap sesuatu yang lahiriah seperti tatacara sunat menumpulkan keefektifan kematian-Nya yang penuh pengorbanan?
Tema utama dari Kitab Galatia adalah bahwa keselamatan didapatkan melalui iman dan bukan usaha; bahwa pembenaran (yaitu, hubungan yang benar dengan Allah) adalah hasil pemberian Anak Allah yang penuh rahmat, bukan hasil usaha manusia; bahwa kebebasan dari ikatan dosa tidak didapatkan melalui ketaatan yang secermat apapun terhadap Hukum Taurat, melainkan melalui kematian Kristus yang menebus di kayu salib. Injil ini diremehkan dan diputarbalikkan apa yang disebut kelompok Yahudi.
Orang Kristen Yahudi ini menentang Injil Paulus sebagai antinomian ("melawan hukum"), jelas mereka percaya bahwa di samping pekerjaan Allah di dalam Kristus, baik orang Kristen Yahudi maupun kafir perlu mentaati Hukum Taurat, yang secara khusus mencakup ketaatan pad a tatacara dan pemujaan, seperti hari-hari khusus, makanan yang halal, dan sunat (3: 1-7; 4:8-11, 17, 21-22). Paulus menyebut mereka "orang-orang yang bersunat" (2:12), karena tuntutan mereka terhadap pengikut Mesias agar mematuhi hukum Musa secara sangat khusus dan radikal terunqkap dalam tuntutan agar orang-orang kafir disunat untuk dapat menjadi anggota penuh dari masyarakat perjanjian yang baru (6:12).
Tuntutan kelompok Yahudi ini ditolak oleh Paulus tanpa kompromi (Iihat bab 32 di atas), karena tuntutan ini menentukan sebuah kriteria untuk keselamatan yaitu usaha rnanusia (3:3), yang berada di luar jalan keselamatan Allah. Mencari kebenaran (yang da/am konteks ini tidak mengacu kepada kebaikan moral-etika, melainkan menunjukkan pemahaman Paulus mengenai "hubungan yang benar dengan Allah") melalui ketaatan terhadap hukum akan berarti "mengesampingkan kasih karunia Allah" (2:12).
Mengapa Paulus sangat menentang setiap campur tangan mengenai ketaatan terhadap Hukum Taurat? Satu alasan dikemukakan pada tiga bab pertama kitab Roma. Walaupun sebagai seorang rabi Paulus jelas percaya bahwa ketaatan sepenuhnya terhadap hukum Musa dapat dilakukan (Filipi 3:4-6), ia juga sangat yakin bahwa jalan untuk mencapai hubungan dengan Allah semacam ini secara tak terhindarkan akan mengarah kepada sikap membenarkan diri sendiri, membanggakan diri dalam perkara-perkara rohani, membual di hadapan Allah dan sesama, dan karena itu secara tidak langsung akan menimbulkan penolakan terhadap sikap mental yang rendah hati di hadapan Pencipta. Alasan yang kedua dan barangkali lebih mendasar
untuk menolak ketaatan lahiriah berdasarkan Hukum Taurat ini adalah keyakinan Paulus bahwa sejak permulaan sejarah penebusan, cara yang sudah ditetapkan secara ilahi untuk memiliki hubungan keselamatan dengan Allah adalah melalui iman, bukan berdasarkan usaha manusia (Lihat Galatia 3:6-25; lihat juga Roma 3-4).
Atas dasar keyakinan ini, Paulus berargumentasi bahwa jika sebuah sistem Hukum Taurat, atau hukum Musa sekalipun, dapat memberi kehidupan, maka hubungan yang benar dengan Allah "memang berasal dari Hukum Taurat" (3:21); tetapi satu-satunya kekuatan yang dimiliki Hukum Taurat adalah menyatakan kedudukan kita sebagai orang berdosa di hadapan Allah yang kudus dan menunjukkan bahwa pada akhirnya kita tergantung pada kasih karunia-Nya, dan menerimanya dalam iman (3:18, 22-25).
Pemahaman cara keselamatan Allah ini, bertentangan dengan cara kelompok Yahudi, menimbulkan pernyataan Paulus bahwa ketaatan terhadap sunat (sebagai sarana menuju pembenaran di hadapan Allah), berarti bahwa Kristus sama sekali 'tidak berguna" bagi mereka (5:2). Kalimat di dalam tanda kurung ini menafsirkan maksud Paulus sesuai dengan pernyataan yang paralel yang diucapkannya dalarn Galatia 2:21, yaitu, "Sebab sekiranya ada kebenaran oleh Hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus." Pusat keprihatinan Paulus tentu saja adalah bahwa sunat yang bagi Paulus merupakan "jalan pintas" untuk kehidupan yang dijalani sesuai dengan hukum Musa yang dipahami dan dilakukan sebagai sarana untuk mendapatkan pembenaran, tidak termasuk dalam kasih karunia Allah. Sebenarnya sunat merupakan pernyataan bahwa seseorang dapat mencapai pembenaran melalui usaha pribadi; dan dengan demikian meniadakan perlunya penebusan.
Bagi orang-orang yang memilih jalan itu, "Kristus tidak akan berguna," karena usaha untuk "dibenarkan oleh Hukum Taurat" akan menimbulkan keterasingan dari Kristus dan keterpisahan dari kasih karunia. Jika kita hidup "menurut Hukum Taurat," Kristus dan karya penebusan-Nya tidak bernilai bagi kita. Tetapi jika kita "di dalam Kristus Yesus, hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih" (5:6).
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking